Labels

Appreciate what you have, Believe in God and yourself, have a Courage to move on, and never stop to Dream.

Friday, July 25, 2014

Would You Dare to Wear White to A Wedding?

glitter,victorian,Winter,Spring,accessories,beauty,hair,hairstyles,lace,makeup,details,flowering,lovely,white
Photo: Lover.ly



The white dress in a wedding commonly refers to a bride. And as a wedding guest, can we wear white too? I think this is not a yes no question. A number of people don't wear white in their wedding, so why we avoid this color as the guest? But, as so many colors there, why urge to choose white as a guest?

People don't wear white to a wedding because it used to be no respectful. An article from About.com wrote:
Wearing a white dress to a wedding when you're not the bride is still generally frowned upon. The bride should get to stand out on her wedding day, and one of the ways she does that is by being the only one wearing white. 



Believe it or not, etiquette books say yes to guests wearing white (and black, and even red), as long as the fabric and cut of the dress aren't bridal at all. Even Cara Delevingne wore a white dress to her sister's, Poppy Delevingne, wedding, make wear white seems right.

But in my opinion, the answer is no. Why? Because in today's less traditional society, wedding will always be a tradition and it's sacred. Not because it's rude or whatever people said it, but not wear white means respectful. 

If you still want to wear white to a wedding, I think this could be an acceptable inspiration:
5 Ways to Wear White to Someone Else's Wedding

And click here for another guest dress inspiration:
Dresses, Guest

For all of wedding inspiration, click here:
Lover.ly

Saturday, June 21, 2014

Apakah Manusia Bisa Dinilai?

Dalam suatu percakapan tidak jarang disertai dengan pertanyaan mengenai bagaimana nilai seseorang secara keseluruhan di mata orang lain. Kalimat ini mungkin terkesan ambigu, untuk menyelaraskan makna, yang saya maksud nilai disini adalah menilai dengan angka, dan saya tekankan yang dinilai adalah manusia secara keseluruhan, bukan hanya fisik atau kemampuaanya semata, tetapi juga perasaan dan tingkah laku. Pertanyaaannya adalah apakah manusia bisa dinilai dengan angka? Bisa saja. Tetapi apakah kita mampu secara tepat melukiskan nilai manusia dengan angka? 

Menurut pandangan saya, tidak ada angka apapun yang dapat secara tepat melukiskan seseorang. Hal ini saya ungkapkan karena, setiap orang yang menanyakan hal ini kepada saya mengenai bagaimana nilainya dimata saya cukup membuat saya kesal. Mengapa?
1. Karena manusia itu punya akal dan hati. Kalau secara akal saja, masih terkesan memungkinkan untuk menilai seseorang. Tetapi, manusia juga punya hati. Dan pada umumnya, perkataan  hati tidaklah selalu selaras dengan perkataan akal. Saya mungkin bisa menilai Anda dengan logika, tetapi saya tidak bisa mengelak suara hati saya. Dan masalahnya adalah hati tidak bisa dinilai secara kuantitatif, mengapa? Kita lanjut ke poin nomor 2.
2. Karena manusia itu adalah makhluk yang sangat tidak konsisten, baik yang menilai ataupun yang dinilai. Manusia itu tidak seperti robot yang memang sudah terprogram dengan pasti. Semenit mengatakan A, semenit yang lain bisa saja telah berubah menjadi B. Begitu juga dengan ketika menilai. Jika ingin menilai sampai detik itu, jika betul-betul terpaksa harus menilai, mungkin masih dimungkinkan, tetapi untuk apa kita memberi nilai dengan tujuan yang tidak penting dan bersifat sangat sementara.
3. Pernahkah terpikir bagaimana kita menilai suatu benda. Zaman sekarang, penilaian yang paling sering digunakan adalah dengan menggunakan uang. Jadi, ketika Anda meminta saya untuk menilai diri Anda secara keseluruhan, sama saja dengan menganggap saya sebagai seorang appraiser yang akan menilai harga Anda di mata saya. Dan tentu hal ini tidak diinginkan bukan?

Alasan-alasan di ataslah yang mendasari saya untuk tidak menilai seseorang dan tidak menjawab pertanyaan tersebut. Jika pertanyaannya didasarkan pada alasan untuk instropeksi diri. Ok, saya rasa masih banyak pertanyaan lain yang dapat diajukan, seperti apakah kekurangan saya, apakah menurut Anda tindakan saya benar, dan beragam pertanyaan lainnya.

Jadi, dengan membaca tulisan saya ini, apakah Anda tetap akan bertanya bagaimana nilai Anda di mata saya? :)

Saturday, March 8, 2014

Initially


postingan pertama di tahun 2014 yang indah ini. Dan kali ini mencoba menulis sesuatu dengan bahasa ibu, yaitu bahasa Indonesia (karena sadar grammar kacau dan memang lebih mudah disampaikan dengan bahasa Indonesia, ok, pertanda butuh belajar bahasa Inggris lebih.. dan lebih).

Jadi, kemanakah saya selama ini (sangat berharap ada yang bertanya ;))? Secara garis besar dari Agustus 2013 hingga saat ini, disibukkan dengan yang namanya skripsi. Dan sekarang walaupun udah dinyatakan LULUS secara sah, masih banyak proses yang harus diurus, seperti tandatangan, jurnal, dan lain sebagainya.

Teringat (OK, paragraf ini tidak dimulai dengan kata jadi lagi, dan kebingungan melanda, kenapa dua paragraf di atas dimulai dengan kata jadi, ok ignore it) ketika masih nyusun skripsi dulu, kepikiran kalau udah sidang w bakal bebas banget, beban beribu-ribu ton langsung terangkat. Ternyata.. masih banyak proses yang harus dilalui. Dan flashback lebih dalam lagi ke masa sekolah dulu, pengennya cepat-cepat kerja biar ga mesti hafal-hafal rumus yang ga jelas penggunaannya dalam menunjang kehidupan sehari-hari, dan akhirnya setelah bekerja, baru sadar.. lebih baik hafal rumus ya. 

Teringat (OK, awal kata yang sama untuk paragraf sebelumnya, anggap saja ini sejenis art, seperti pantun a-b-a-b gitu) sebuah bacaan di buku yang recommended banget Chicken Soup fot the Soul. Disana ada satu kutipan yang langsung ngena banget. "Life isn't about waiting for the storm to pass… It's about learning to dance in the rain." Berdasarkan cerita yang disampaikan, apa yang w tangkap adalah, kenapa kita mesti nunggu sesuatu berlalu dulu baru rasain kebahagian. Misalnya, w kepikiran selesaiin skripsi w dulu, baru merasa beban beribu-ribu ton w terangkat. Padahal setelah selesai sidang, datang lagi hal lainnya. Jadi kapan bahagianya? Intinya, dalam kondisi apapun tetap ingat bahagia yang paling penting. Jangan ada kata-kata tunggu w selesai sidang lah baru gini baru gitu. Kalau mau lakukan sekarang juga.

Ya, tapi jangan disalahpahamkan ya. Kita tetap harus bertanggung jawab sama apa yang kita lakukan kog, Jadi jangan mentang-mentang bahagia penting jadi skripsi ditinggalkan ya. Ngutip lagi dari buku yang keren banget dan penulis yang juga keren, The Alchemist by Paulo Coelho, tentang seorang yang ingin mencari kebahagian. Jadi ketika dia bertanya pada seorang.. (sorry w lupa jadi kita ganti aja tokohnya dengan si A dan B ;)). Si A bertanya resep bahagia pada si B. Jadi si B minta si A bawa sendok sambil jalan-jalan kelilingi kastil atau apa gitu, ceritanya saat itu di kastil ada pesta kali ya, dan si A harus jaga air di sendok ga jatuh, Jadi berkelilinglah si A dan kembali dengan sendoknya dalam keadaan baik. Kemudian setelah kembali, si B bertanya bagaimana dekorasi dan perayaan di kastil ini. Si A menjawab ia terlalu sibuk menjaga sendoknya biar ga jatuh. Jadi, si B meminta si A untuk keliling tanpa membawa sendok, dan ketika kembali diceritakanlah semuanya tentang kastil itu. Dan terakhir si B berkatakebahagiaan adalah ketika bisa menikmati semuanya sambil tetap menjaga pegangan sendok di gengamanmu (Ok, maaf ya ceritanya mungkin agak berbeda dengan aslinya, tapi intinya tetap sama kog). 

Jadi, mulai sekarang berbahagialah dalam kondisi apapun. :)

Wednesday, December 4, 2013

RoundBrown




When I was posting this post, i didn't have any words to write as a caption. Then, I looked again through my photos and yes, I saw most of brown color. So, I named it with something which brown color covered most of the photos and I called it RoundBrown. OK, kinda weird. ;)

Outerwear - Gowigasa
Shoes - DivesButik

Thursday, October 31, 2013

West Sumatra, 12102013 - 14102013

In this mid October, I spent my long weekend in West Sumatra. Started the journey on Friday, October 11th, 2013 at 9 p.m, when it was a heavy rain in Pekanbaru. We reached Padang, the capital city of West Sumatra at almost 7 a.m. Longer than expected due to the heavy rain. 

Day 1


On the first day, we went to Pantai Carocok, Painan. It was approximately 77 km from Padang. We drove from 7 a.m and reached there at 12 p.m, almost 5 hours, after added the time we had been wasted by lost in the Carocok Tarusan :). But the wasted time had been paid by the beautiful view from Pantai Carocok Painan.








From Pantai Carocok Painan, we drove to Jembatan Akar. From Padang, after passed the TNI quarters, it was a road that split in to two places. The left side to Jembatan Akar and the right side to Carocok. From this road it almost 8 km to reach Jembatan Akar. 

Jembatan Akar is a bridge made from the roots (akar). The bridge seemed strong enough after a long time. There was a river below this bridge. And we can took some pictures at the river by sitting on the big stones. :)



Day 2

We spent the second day at Solok. The view was beautiful, with the tea gardens and vegetables gardens on the right and left side. Our next destination were Danau Bawah and Danau Atas. We almost lost because the sign board was very small. Because of the time that had been wasted, we just visited Danau Bawah. You must predicted that in Danau Bawah you can viewed the lake (Danau = Lake, Bawah = Down), but it was only scenery in Danau Bawah. The lake seemed far enough. 




After that we took some pictures at tea garden beside the road. It's beautiful.




Then, we visited Danau Singkarak. The view is beautiful if some people could preserved and maintained it well.



From Danau Singkarak, we drove to Batu Sangkar. We reached Istana Pagaruyung at 7 p.m and luckily, it hadn't been closed.



From Batu Sangkar, we drove to Bukit Tinggi. It took 2 hours more.

Day 3

We visited Lembah Anai, in Padang Panjang. It took 2 hours from Bukit Tinggi.



Then we back to Bukit Tinggi and visited Panorama. There were Goa Jepang, the cave that built during the Japanese colonial period, and behind Goa Jepang, it was Jenjang Seribu, The Great Wall of Kota Gadang. It has a thousand rungs.



And in Bukit Tinggi, don't forget to visit Jam Gadang, the icon of the city. There was a market behind this Jam Gadang and you can buy your souvenirs there.

Then, before back to Pekanbaru, we stopped at Payakumbuh to visit Lembah Harau. The valley were amazing, and also the waterfall, even the water wasn't swift enough.




And time to came back home. We started at 5 p.m and reached Pekanbaru at 9.30 p.m. Longer than expected due to "Malam Takbiran" (the day before Eid Al-Adha).

Note:
1. The people in Padang are friendly enough, if you don't know how to reach a destination, just simply step aside and ask.
2. Wear something polite, because most of the citizen are moslem.
3. Most of the hotel in West Sumatra are not allowed a group of men and women in one hotel.






Friday, October 18, 2013

Hal Penundaan

Seberapa seringkah kita menunda untuk melakukan suatu hal? Jawaban yang paling sering saya dengar adalah sangat sering. Alasannya, salah satunya adalah kemalasan. Ok, kali ini saya sedang tidak ingin membahas soal kemalasan. Jadi sebagai suatu bentuk pembatasan masalah pada penulisan ini, diangkatlah judul hal penundaan. Artinya, tentu saja bahwa yang akan dibahas dalam postingan ini adalah mengenai penundaan. Maaf ya kata kemalasan hanya numpang lewat aja.

Saya secara pribadi sadar bahwa menunda itu kadang merugikan. Kata kadang disini menjelaskan bahwa kadang-kadang menunda itu ada baiknya juga. Agar lebih mudah dipahami dan terasa lebih real, akan saya paparkan dengan contoh dan ilustrasi.

Mengapa menunda itu merugikan? Ada kalanya karena terlalu banyak hal menyenangkan di dunia ini, seperti sosial media, nonton TV, makan, jalan-jalan; timbullah suatu kecenderungan untuk menikmati hal yang menyenangkan tersebut, sehingga tertundalah hal yang kurang menyenangkan yang akan dikerjakan. Kita anggap saja hal yang kurang menyenangkan itu sebagai tugas atau pekerjaan. Jadi apa bentuk kerugiaanya? Kalau zaman SD dulu ga buat tugas bakalan dihukum, zaman kuliah ga lulus mata kuliah itu, kalau kerja yang tingkat sedangnya kena SP, paling gawatnya di PHK. Itu kerugian yang tampak. Ada pula kerugian abstraknya. Kerugian abstraknya ya untuk pribadi kita sendiri. Mau jadi apa kita kalau menunda terus? Seberapa banyak yang telah kita lewatkan hanya karena sikap penundaan kita? Apakah hidup kita yang sangat singkat di dunia ini layak untuk diisi dengan sikap penundaan kita?

Mengapa menunda yang berkonotasi negatif ini masih ada keuntungannya? Karena semua hal itu selalu ada hitam putihnya dan sisi baik dan buruknya. Ok, maaf jawabannya bukan itu. Tapi bukan berarti pernyataan tersebut salah ya, he he. Ok, jawabannya akan saya jelaskan dalam bentuk contoh dan ilustrasi lagi. Menunda yang membawa keuntungan itu tentu saja bukan menunda tugas atau pekerjaan. Tetapi menunda untuk berpikiran negatif, menunda untuk marah. Ok, jawabannya mungkin terasa mengecewakan, tapi ini benar. Kalau versi matematikanya, negatif kali negatif itu jadinya positif. Jadi, menunda yang negatif sama sifat negatif jadinya sesuatu yang positif. Ok, saya akan memberikan contoh yang lebih baik dari tadi untuk mengobati kekecewaan Anda. Secara pribadi, saya pernah merasakan ketika saya terlalu sibuk untuk memberikan yang terbaik pada apa yang saya kerjakan. Hasilnya, kerjaan saya memang baik, tetapi tidak ada suatu perasaan bahagia ketika saya mencapainya. Karena saya terlalu fokus dan orientasi saya hanya untuk pekerjaan itu. Saya merasa waktu saya seperti terbuang untuk pekerjaan itu dan saya bahkan meninggalkan hal-hal lain dalam hidup saya, dalam hal ini bisa keluarga ataupun sekedar refreshing :). Salah satu bukti saya ada selama ini, yaitu pekerjaan saya. Disini saya belajar bahwa fokus itu penting, tapi kita tidak boleh meninggalkan hal-hal lain yang mungkin terkesan simple dalam hidup kita. Makksudnya begini, kita tetap bekerja, tetapi jangan lupa untuk tetap menikmati hidup. Jalani saja, tetapi jangan pernah untuk menyerah dan berhenti di tengah jalan. Nikmati saja prosesnya.

Kesimpulannya, menunda itu tidak baik. Kita tahu menunda itu tidak baik, tetapi kita tetap ga bisa nolak keinginan hati untuk menunda. Jadi apa solusinya? Solusinya: Belajar untuk fokus perlahan-lahan pada apa yang kita kerjakan. Nikmati saat-saat melakukan hal yang kita rasa tidak menyenangkan tersebut, karena ketika dinikmati rasanya ternyata ga seburuk yang kita bayangkan. Selain itu, belajar juga untuk menjauh sebentar dari hal-hal menyenangkan yang membuat kita menunda pekerjaan kita. Terapkan suatu prinsip, seperti reward ketika kita berhasil untuk tidak menunda pekerjaan atau ketika kita selesai melakukan suatu pekerjaan tanpa menunda. Rewardnya bisa berupa hal-hal menyenangkan tadi. Tidak lupa juga tingkatkan motivasi kita dengan banyak membaca ataupun mengenal orang-orang yang menginspirasi ataupun orang-orang sukses. Dengan adanya motivasi niscaya kita akan terdorong untuk terus berusaha.

Jadi, apa alasan kita untuk menunda lagi? Semangat!! Kerjakan, nikmati, dan jangan pernah menyerah.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengkritik siapa pun. Tulisan ini hanyalah sebagai wadah untuk menginspirasi dan memotivasi siapapun yang membacanya. Penulis meminta maaf apabila terdapat kata-kata yang secara tidak sengaja menyinggung beberapa pihak. Terimakasih.

Wednesday, September 18, 2013

Happiness

I realize that there is always something to be grateful for in life. I can't say that I'm happy enough, but I'm not that miserable too. Life is not easy, but it's not so tough too. I always believe that our attitude and our thought will reflect the happiness.

Sometimes, there was a point in my life, that I felt so miserable. I felt like every single thing which I had done seem wrong. Sometimes I felt like the man in the story of "The Man, The Boy, and The Donkey". And sometimes, I felt like the principles that I have taken in my life seemed so tough. It's just like I have everything but I'm not happy.

Then, I read my favorite book, Chicken Soup for The Soul. I really love this book, and after read it, I realize that happiness is about live simple, about gratitude, about catching your dreams, and it also about letting go.

1.     Live Simple

Live simple is about being gratitude for what we have. Sometimes, we tried to have everything we want. Have you remember how many times we have spent money on something we don't need? Have you remember how many times we have tried to be like somebody else that we thought perfect? 

I think live simple is about being who we are. To be honest, sometimes I felt so tired to hear all of the opinions which came over what I did.  But, people are people, and they have the right to say and give the opinion. I think, when we could change our attitude and thought toward it, and have a confidence for what we did, and don’t forget to be who we are, then we could find the happiness.

Life is not easy, but we can live as simple as we can. Be grateful for what you have, and be who you really are. Do your best and forget the rest. It’s simple.

2. Gratitude

Sometimes, we tried to have everything that we didn’t have and forget everything that we have already had. Sometimes, we felt so jealous for what people have and achieved. Remember the proverb “The grass is always greener on the other side?”

We can’t find the happiness if we always think about what we don’t have. Why don’t we try to be grateful for what we have? For some people maybe it’s hard. But we can try it, like helping people. When we focusing on what we don’t have, we forget about what we have already had and forget about there are so many people who live harder.

What to be grateful for? Be grateful for your health, your family, your ability, and the very simple thing like being grateful that you read my post, like the way I’m so grateful that I have posted this post. :) 

3. Catching Your Dreams

Do you still remember your dreams? When I was a child, I remember that I have so many dreams and I believe that the future will be so good. But now, dream seems so childish, being realistic is better and the future seems unpredicted.

The question is, “Am I happy?” No. I confess that I just try to live in this predictable circle (work-study-home-work), and I’m afraid to get out of this circle. I found that there are so many people have the same feeling as I am.

I can’t tell you to get out of your daily boring work and go catch your dream, because I know it’s hard. But, when you still younger, go catch your dream, choose the work that you really like to. We always make an excuse like, I will do it later, but later could be too late. Do it now. I don’t tell you to get out of your circle now, but you can do something like me. I always love reading and writing, so I write this post. I still live in my predictable circle, but I never give up on my dream too.

Go catch your dream. Do it now, even it was a simple or little step, because later will be too late.

4.  Letting Go

Do you still remember your past bad memories? Let it go. Do you still save those unhealthy feeling to someone that did something bad to you? Let it go. Do you still remember the people that did something wrong to you? Let it go.

Why we should let it go? Because, it just brings the disadvantages to you. Do you feel happy with that? No, just let it go. It’s simple.

I remember the story in Chicken Soup for the Soul. There was a father who very proud for his beautiful rose vase. Then his child inadvertent broke that beautiful vase. He felt so angry at first and thought to bash his child. But then he thought, his child was more important than that broken vase. How many times we put the things more important than our relationship to other? The father let the vase broken, because there is something more important.

And last, always remember that happiness is a choice. You choose to be happy or not. 

Monday, August 12, 2013

2. SisFStile: Welcome to the Converse Century

Model: My sister, Veini Tandiyanti








Outer and Shoes - Converse

Another post for SisFStile. I named it after my Converse Jacket, Welcome to The Converse Century. I really love this jacket and I love to wear it during the rainy season (September-December), because the material won't get wet easily, so I don't need to wash my jacket everyday :). I bought this jacket about 4 or 5 years ago, and it still looks good. And so does the shoes, it still looks good after 3 or 4 years. And the bag, it was my best buy ever. Only 5.000 rupiahs!! I bought it two years ago in Bandung, West Java.